Oleh : Evi Nurlaeli S.Pd.I (Kepala PKBM Asri Paradista)
Di sebuah sudut kampung, ketika anak-anak lain mengenakan seragam sekolah di pagi hari, ada seorang remaja yang justru berjalan ke tempat kerja. Bukan karena ia tidak ingin sekolah, tetapi karena keadaan memaksanya memilih antara belajar atau membantu keluarga bertahan hidup.
Mimpi sekolahnya sempat padam.
Ia pernah merasa masa depannya telah berhenti. Namun, suatu sore, ia menemukan sebuah tempat sederhana. Tidak megah. Tidak mewah. Hanya beberapa ruang belajar, papan tulis, dan kursi seadanya. Tempat itu bernama Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat—PKBM.
Di sanalah, harapan yang hampir mati itu perlahan hidup kembali.
PKBM bukan hanya tempat belajar. PKBM adalah tempat di mana seseorang kembali percaya bahwa dirinya berharga. Di sana, tidak ada yang ditanya, “Kenapa kamu terlambat?” Tetapi yang ada adalah kalimat, “Mari, kita mulai dari sekarang.”
Ada ibu rumah tangga yang dulu berhenti sekolah karena menikah muda. Kini ia belajar membaca dengan mata berkaca-kaca. Ada pekerja bangunan yang datang dengan pakaian penuh debu, tetapi duduk dengan penuh semangat mempelajari pelajaran. Ada juga remaja putus sekolah yang akhirnya berani bermimpi kembali.
PKBM menerima mereka tanpa syarat, tanpa menghakimi masa lalu mereka dan tanpa membedakan siapa mereka. Semangat ini sejalan dengan cita-cita besar Ki Hajar Dewantara, yang percaya bahwa pendidikan adalah hak semua orang, dan tugas pendidikan adalah menuntun, bukan meninggalkan.
PKBM adalah bukti bahwa negara masih hadir, melalui tangan-tangan tulus para tutor, pengelola, dan pejuang pendidikan masyarakat, yang didukung oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Disdikpora Cianjur.
Namun sesungguhnya, PKBM bukan hanya tentang ijazah.PKBM adalah tentang harga diri. Tentang kesempatan kedua. Tentang memulihkan mimpi yang pernah patah.
Setiap warga belajar yang lulus dari PKBM bukan hanya membawa selembar kertas, tetapi membawa keyakinan baru bahwa mereka mampu mengubah hidupnya.
Dan mungkin, di luar sana, masih banyak yang merasa masa depannya telah tertutup. Padahal belum, karena selalu ada PKBM. Tempat di mana harapan yang hampir padam, dinyalakan kembali.
Tempat di mana yang tidak terlayani, akhirnya dipeluk oleh pendidikan.Tempat di mana mimpi diberi kesempatan untuk hidup sekali lagi. (**). Penulis juga Bendahara FK PKBM Cianjur.



Tinggalkan Balasan