“Semua Orang Adalah Guru, Alam Raya Adalah Sekolahku.”
Oleh: Erik Taryana, S.Pd.I
Di tengah hiruk pikuk modernisasi pendidikan yang seringkali terjebak pada standar nilai, gedung megah, dan seragam yang kaku, kita kadang lupa menengok kembali ke akar filosofi pendidikan bangsa ini.
Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, pernah menanamkan sebuah gagasan yang begitu sederhana namun revolusioner: “Jadikan setiap tempat sebagai sekolah, jadikan setiap orang sebagai guru” (sering dikutip sebagai ‘alam raya sekolah, semua orang guru’) adalah filosofi pendidikan dari Ki Hajar Dewantara
Kalimat ini bukan sekadar puisi. Ini adalah manifesto tentang demokratisasi ilmu pengetahuan. Jika ditelaah lebih dalam, semangat ini tidak sedang berbicara tentang sekolah formal dengan dinding-dinding beton yang membatasi.
Justru, semangat ini menemukan rumah yang paling nyaman di Pendidikan Non-Formal, khususnya di PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Dalam pandangan KHD, seorang petani yang ahli menanam padi adalah guru bagi yang ingin belajar pertanian.
Seorang ibu yang mendidik anak dengan kasih sayang adalah guru kehidupan. Seorang pengrajin batik di desa adalah guru seni. Ilmu itu tersebar di mana saja, melekat pada pengalaman dan keahlian setiap individu.
Sementara itu, “Alam raya adalah sekolahku” menegaskan bahwa belajar tidak harus duduk diam di dalam kelas selama enam jam. Pasar, bengkel, sawah, balai warga, hingga interaksi sosial di lingkungan sekitar adalah ruang kelas yang sesungguhnya.
Pendidikan haruslah kontekstual, menyentuh kehidupan nyata, dan memecahkan masalah riil di masyarakat. Lalu, di mana kita bisa menemukan ekosistem pendidikan yang paling mendekati cita-cita Ki Hajar Dewantara tersebut di masa kini? Jawabannya ada pada PKBM.
PKBM bukan sekadar tempat kursus atau sekolah pengejar paket (A, B, C). Lebih dari itu, PKBM adalah hub komunitas. Di sinilah filosofi Ki Hajar dihidupkan:
- Fleksibilitas Ruang Belajar (Alam Raya adalah Sekolah)
Berbeda dengan sekolah formal yang terikat pada struktur bangunan dan jam pelajaran yang kaku, PKBM memiliki fleksibilitas tinggi.
Kegiatan belajar bisa dilakukan di balai desa, di sanggar seni, di lahan praktik pertanian, atau bahkan secara daring. Kurikulum di PKBM seringkali disesuaikan dengan kebutuhan lokal.
Jika sebuah desa berbasis pariwisata, PKBM di sana bisa fokus pada hospitality dan bahasa asing. Jika di daerah pesisir, pembelajaran bisa berbasis kelautan. Ini adalah bukti bahwa “alam sekitar” menjadi kurikulum itu sendiri.
- Pemanfaatan Sumber Daya Manusia (Semua Orang adalah Guru)
Di PKBM, tutor tidak selalu harus berlatar belakang pendidikan keguruan formal. Seorang dalang bisa mengajar seni budaya, seorang akuntan pensiunan bisa mengajar kewirausahaan, dan seorang aktivis lingkungan bisa mengajar tentang ekologi.
PKBM memberdayakan potensi lokal. Ini mewujudkan konsep Ki Hajar bahwa setiap warga negara memiliki kapasitas untuk mendidik dan dididik (Among System).
- Pendidikan Sepanjang Hayat (Long Life Education)
Ki Hajar Dewantara bermimpi pendidikan yang memerdekakan manusia seutuhnya, tanpa batasan usia. PKBM melayani semua usia, dari PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) hingga pendidikan keaksaraan untuk lansia.
Di PKBM, seorang kakek bisa belajar membaca bersama cucunya, atau seorang ibu rumah tangga bisa mengambil paket C untuk melanjutkan kuliah. Batasan usia dan status sosial menjadi cair, sesuai dengan semangat “Tut Wuri Handayani” yang mendukung kemandirian belajar setiap individu.
Meskipun secara filosofi PKBM sangat selaras dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara, realitas di lapangan menunjukkan bahwa PKBM seringkali masih dianggap sebagai “pilihan kedua” setelah sekolah formal. Stigma ini harus diubah.
PKBM bukanlah tempat pendidikan kelas dua. PKBM adalah pendidikan alternatif yang membebaskan. Ia adalah ruang di mana pendidikan dikembalikan kepada fitrahnya: memanusiakan manusia melalui pengalaman dan interaksi sosial.
Untuk memahami bagaimana filosofi Ki Hajar bekerja, mari kita lihat tiga potret nyata dan potensi kegiatan PKBM yang umum ditemukan di berbagai kecamatan di Cianjur:
- PKBM Berbasis Pertanian: Alam Sebagai Kelas (Wilayah Cianjur Utara & Tengah)
Di kecamatan-kecamatan yang menjadi lumbung padi dan sayuran (seperti Warungkondang, Pacet, Cipanas atau Cibeber), ada dan harus di perbanyak PKBM yang mengintegrasikan pendidikan kesetaraan (Paket A, B, C) dengan keterampilan pertanian.
Siswa tidak hanya belajar teori biologi di buku, tetapi langsung praktik menanam padi, mengelola hama, atau memasarkan hasil panen.
Pengajarnya bukan hanya tutor bersertifikat, tetapi juga petani sukses di desa tersebut yang mengajarkan teknik pertanian modern. Lulusan PKBM di wilayah ini tidak hanya mendapat ijazah, tetapi juga kemampuan untuk mandiri secara ekonomi melalui sektor agraris yang memang menjadi tulang punggung Cianjur.
- PKBM Berbasis Pesantren dan Kearifan Lokal (Wilayah Cianjur Selatan & Timur)
Cianjur dikenal dengan kuatnya tradisi keagamaan. Banyak PKBM yang berafiliasi atau berada di lingkungan pesantren (seperti di daerah Ciranjang, Bojongpicung, Haurwangi Takokak atau Sukanagara).
Pendidikan tidak memisahkan antara ilmu umum dan ilmu agama. Lingkungan pesantren yang komunal mengajarkan kemandirian, disiplin, dan sosial.
Peran Guru: Kiai, ustaz, hingga santri senior menjadi mentor. Ini adalah wujud nyata sistem “Among” Ki Hajar Dewantara, di mana pendidikan didasarkan pada kasih sayang dan keteladanan, bukan hukuman.
PKBM jenis ini menjadi benteng moral sekaligus pusat pencerahan intelektual bagi masyarakat sekitar yang mungkin tidak memiliki akses ke sekolah formal jauh di pusat kota.
- PKBM Tangguh Bencana dan Pemberdayaan Perempuan (Pasca Gempa Cianjur)
Pasca gempa bumi yang mengguncang Cianjur pada akhir 2022, peran PKBM semakin krusial. Haruslah ada PKBM bertransformasi menjadi pusat pemulihan (recovery center).
Sekolah tidak berhenti saat bencana datang. PKBM menyediakan ruang aman untuk belajar sambil belajar (learning while healing).
Relawan, psikolog, dan ibu-ibu PKK menjadi “guru” yang saling menguatkan. Pelatihan keterampilan seperti menjahit, memasak, dan kerajinan tangan diberikan kepada para ibu untuk membantu pemulihan ekonomi keluarga. Ini membuktikan bahwa dalam kondisi darurat sekalipun, semangat belajar masyarakat Cianjur tidak padam, dan PKBM adalah wadahnya.
Untuk menghidupkan kembali semangat KHD melalui PKBM, diperlukan dukungan bersama:
Pemerintah: Perlu memberikan akses pendanaan dan pengakuan yang setara terhadap lulusan dan tutor PKBM.
Masyarakat: Perlu membuka diri untuk terlibat, baik sebagai peserta didik maupun sebagai relawan pengajar.
Pengelola PKBM: Harus terus berinovasi agar pembelajaran tetap relevan dengan tantangan zaman tanpa kehilangan akar budaya lokal.
Ki Hajar Dewantara pernah berkata, “Pendidikan ialah tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak.” Tuntutan hidup hari ini bukan lagi sekadar hafalan teori, melainkan kemampuan beradaptasi, berkarya, dan bersosialisasi.
PKBM adalah bukti bahwa sekolah tidak harus membatasi, melainkan membebaskan. Dengan menjadikan masyarakat sebagai guru dan lingkungan sebagai kelas, PKBM merawat nyala api filosofi Ki Hajar Dewantara agar tidak padam ditelan zaman.
Mari kita lihat PKBM bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai pusat peradaban kecil di tengah masyarakat. Karena pada akhirnya, ketika kita menyadari bahwa semua orang adalah guru dan alam raya adalah sekolah, saat itulah pendidikan yang memerdekakan benar-benar terjadi. (**). Penulis merupakan Penilik PKBM dan Paud Kecamatan Karangtengah Cianjur.



Tinggalkan Balasan