Dari Putus Asa ke Pintu Harapan: Kisah Warga Belajar PKBM Al-Qudwah Cempaka Menemukan Masa  Depan

|

40 Views

 

Oleh : Elis Marsidah M.Pd , Kepala PKBM Al-Qudwah

Di sudut-sudut kota dan desa, masih banyak anak muda yang pernah merasa masa depannya berhenti di tengah jalan. Ada yang harus meninggalkan bangku sekolah karena ekonomi keluarga, ada yang terseret oleh keadaan hingga kehilangan kesempatan belajar. Di titik itu, sebagian dari mereka sempat merasa bahwa masa depan telah tertutup.

Namun, di tengah keadaan tersebut, hadir sebuah ruang harapan bernama Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Al-Qudwah Cempaka Cianjur.

Bagi sebagian orang, PKBM mungkin hanya dipandang sebagai tempat pendidikan alternatif. Tetapi bagi banyak anak muda yang pernah tersisih dari sistem pendidikan formal, PKBM adalah pintu kedua menuju masa depan.

Kisah itu tercermin dari perjalanan seorang warga belajar bernama Neni Maryani (34), yang dahulu menghabiskan hari-harinya tanpa pekerjaan. Waktu berjalan tanpa arah. Ia pernah merasa minder melihat teman-temannya telah bekerja atau melanjutkan pendidikan, sementara dirinya terhenti di tengah jalan karena putus sekolah.

Keadaan berubah ketika ia memutuskan untuk kembali belajar di PKBM. Di tempat itulah ia menemukan lingkungan yang berbeda. Tidak ada stigma, tidak ada rasa dihakimi. Para tutor menyambut warga belajar dengan pendekatan yang hangat dan manusiawi.

Belajar di PKBM bukan sekadar mengejar pelajaran yang tertinggal. Di sana, warga belajar juga diajak membangun kembali kepercayaan diri. Mereka belajar bahwa kegagalan masa lalu bukanlah akhir dari perjalanan hidup.

Hari-hari yang dulu terasa kosong perlahan terisi dengan kegiatan belajar. Dari membaca, berdiskusi, hingga mengikuti berbagai kegiatan pembinaan.

Proses itu memang tidak instan, tetapi sedikit demi sedikit membangun semangat baru. Hingga akhirnya, momen yang ditunggu datang: memperoleh ijazah pendidikan kesetaraan.

Bagi sebagian orang, ijazah mungkin hanya selembar kertas. Namun bagi warga belajar PKBM, ia sering kali menjadi simbol kemenangan atas perjuangan panjang. Ijazah itu bukan sekadar bukti kelulusan, tetapi juga tanda bahwa mereka berhasil bangkit dari keterbatasan.

Setelah itu, peluang pun mulai terbuka. Dengan bekal ijazah dan kepercayaan diri yang tumbuh, kesempatan bekerja datang. Ada yang bekerja di perusahaan, ada yang merintis usaha kecil, dan ada pula yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan menjadi guru. Termasuk Neni yang sekarang bekerja sebagai guru di sekolah dasar.

Kisah-kisah seperti ini mungkin tidak selalu muncul di halaman utama media. Namun sesungguhnya ia menyimpan makna besar tentang peran pendidikan dalam mengubah kehidupan.

PKBM menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu harus dimulai dari tempat yang sempurna. Kadang ia tumbuh dari ruang sederhana, dari semangat para tutor, dan dari tekad warga belajar yang tidak ingin menyerah pada keadaan.

Di balik keberhasilan seorang anak PKBM yang kini bekerja, terdapat pesan yang kuat: bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Dan dari kesempatan itulah, masa depan bisa kembali dibangun. (**). Penulis juga merupakan dosen di Perguruan Tinggi di Cianjur dan  mahasiswa S3 di Bandung.

 

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *