Oleh : Bahrum Rangkuti (Kepala PKBM Nurussyifa Cijati Cianjur)
Di sebuah sudut kampung sederhana di negeri Kabupaten Cianjur tepatnya di Kampung Cijati Desa Cijati Cianjur Selatan, ada seorang lelaki bernama Rahmat. Setiap pagi, ia berangkat bukan ke kantor, bukan ke toko, melainkan ke proyek bangunan.
Tangannya kasar, kulitnya legam terbakar matahari. Upahnya cukup untuk makan hari ini, tapi tidak pernah cukup untuk bermimpi tentang hari esok.
Rahmat pernah sekolah. Tapi hidup lebih keras dari pelajaran. Ia berhenti di bangku SMP. Bukan karena malas, tapi karena keadaan memaksanya memilih antara belajar atau membantu keluarga bertahan hidup.
Bertahun-tahun Rahmat hidup dalam kalimat yang sama: “Maaf, kami butuh yang punya ijazah SMA.” Kalimat itu seperti pintu yang selalu tertutup di hadapannya.
Hingga suatu malam, seorang temannya berkata, “Mat, coba ikut PKBM. Kamu bisa sekolah lagi.” Rahmat tertawa kecil. “Umur saya sudah 32 tahun. Sudah terlambat.” Tapi diam-diam, dalam hatinya, ia lelah ditolak oleh keadaan.
Akhirnya ia datang ke PKBM Nurussyifa Cijati. Di sana, ia bertemu orang-orang seperti dirinya. Tukang ojek. Buruh cuci. Penjual gorengan. Ibu rumah tangga. Mereka semua datang membawa luka yang sama: putus sekolah, putus harapan.
Namun di PKBM, mereka tidak dipandang sebagai orang gagal. Mereka dipandang sebagai orang yang belum selesai. Rahmat belajar di malam hari. Setelah seharian bekerja, dengan tubuh lelah, ia tetap datang. Kadang mengantuk. Kadang hampir menyerah.
Tapi ia bertahan, hingga hari itu tiba. Hari ketika ia menerima ijazah Paket C setara SMA. Ia memegang kertas itu dengan tangan bergetar. Bukan karena kertasnya mahal. Tapi karena untuk pertama kalinya, ia merasa dirinya berharga.
Beberapa bulan kemudian, Rahmat memberanikan diri melamar pekerjaan di sebuah pabrik.
Kali ini, ia tidak lagi berkata, “Saya tidak punya ijazah.” Ia menyerahkan map coklat itu dengan penuh keyakinan. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia diterima.
Hari itu, Rahmat pulang dengan air mata, bukan karena sedih. Tapi karena akhirnya, hidupnya berubah. Gajinya memang tidak langsung besar. Tapi cukup untuk sesuatu yang dulu terasa mustahil:
Ia bisa memperbaiki rumah orang tuanya, ia bisa membeli sepeda untuk anaknya, ia bisa berkata kepada keluarganya: “Sekarang, saya punya masa depan.”
Inilah kekuatan PKBM. PKBM bukan sekadar tempat belajar, PKBM adalah tempat orang-orang kecil mendapatkan kembali harga dirinya. PKBM adalah tempat harapan yang pernah mati, hidup kembali dan PKBM membuktikan bahwa ijazah bukan sekadar selembar kertas.
Ijazah adalah kunci. Kunci untuk membuka pintu pekerjaan. Kunci untuk membuka pintu penghasilan yang lebih baik. Kunci untuk membuka pintu kehidupan yang lebih layak.
Program pendidikan kesetaraan yang didukung oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dan Disdipora Cianjur bukan hanya mencerdaskan, tetapi menyelamatkan masa depan.
Hari ini, Rahmat bukan lagi buruh serabutan. Ia adalah karyawan tetap. Ia berdiri lebih tegak. Ia berbicara lebih percaya diri. Dan yang paling penting, anaknya tidak lagi berkata, “Ayah cuma buruh.” Anaknya berkata, “Ayah bekerja di perusahaan.”
PKBM mungkin sederhana, bangunannya mungkin tidak megah, kursinya mungkin tidak baru, tapi dari tempat sederhana itu. Lahir kehidupan yang luar biasa. Karena sejatinya, PKBM tidak hanya memberikan ijazah, PKBM memberikan kehidupan baru. (**) Penulis juga merupakan Ketua Korwil FK PKBM Wilayah 7 (Cijati, Kadupandak dan Takokak).



Tinggalkan Balasan