Menyalakan Semangat Kartini di Jalur Pendidikan Nonformal

|

29 Views

 

Oleh : Dr Adah Aliyah M.Pd, M.CE

Peringatan Hari Kartini setiap 21 April kerap hadir dalam nuansa seremonial.  Kebaya dikenakan, panggung-panggung perayaan digelar, dan kutipan-kutipan tentang emansipasi kembali dihidupkan.

Namun, di balik perayaan itu, terselip pertanyaan yang semakin relevan dari waktu ke waktu, bagaimana kita memaknai semangat Kartini dalam lanskap sosial yang terus berubah, khususnya dalam bidang pendidikan?

Di tengah percepatan teknologi dan pergeseran kebutuhan dunia kerja, pendidikan tidak lagi dapat dimonopoli oleh jalur formal. Sekolah dan perguruan tinggi tetap penting, tetapi tidak selalu mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat, terutama perempuan yang hidup dalam keterbatasan.

Faktor ekonomi, akses geografis, hingga norma sosial masih menjadi penghalang nyata bagi banyak perempuan Indonesia untuk mengenyam pendidikan formal secara utuh.

Dalam konteks inilah pendidikan nonformal menemukan relevansinya. Ia hadir bukan sekadar sebagai alternatif, melainkan sebagai ruang belajar yang adaptif, inklusif, dan sering kali lebih responsif terhadap kebutuhan nyata masyarakat.

Lembaga kursus, pelatihan kerja, kelompok belajar masyarakat, hingga platform digital kini menjadi medium penting bagi perempuan untuk memperoleh keterampilan dan pengetahuan.

Bagi sebagian perempuan, pendidikan nonformal bukan hanya jalan kedua, tetapi satu-satunya jalan yang tersedia. Di desa-desa, misalnya, pelatihan menjahit, tata boga, atau kerajinan tangan menjadi pintu masuk menuju kemandirian ekonomi.

Di kota-kota, kursus digital marketing, desain grafis, hingga pengelolaan usaha kecil membuka peluang baru di tengah kompetisi pasar kerja yang kian ketat. Semua ini menunjukkan bahwa pendidikan nonformal memiliki daya jangkau yang luas dan dampak yang konkret.

Namun, ironi muncul ketika kontribusi besar tersebut belum sepenuhnya diiringi dengan pengakuan yang setara. Pendidikan nonformal masih sering ditempatkan sebagai pelengkap, bukan sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional.

Sertifikasi yang dihasilkan kerap dipandang kurang bernilai di mata industri, dan dukungan kebijakan pun masih terbatas. Padahal, dalam banyak kasus, keterampilan yang diperoleh melalui jalur nonformal justru lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.

Pandangan yang hierarkis terhadap Pendidikan yang menempatkan formal di atas nonformal perlu segera ditinjau ulang. Dalam realitas yang semakin kompleks, keberagaman jalur belajar justru menjadi kekuatan.

Pendidikan nonformal menawarkan fleksibilitas waktu, biaya yang lebih terjangkau, serta pendekatan pembelajaran yang lebih praktis. Ia mampu menjangkau mereka yang terpinggirkan oleh sistem formal, sekaligus memberikan solusi nyata yang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari.

Semangat Kartini, jika ditarik ke masa kini, tidak lagi hanya soal membuka akses terhadap pendidikan formal bagi perempuan.

Lebih dari itu, ia tentang memastikan setiap perempuan memiliki kebebasan untuk belajar melalui jalur apa pun yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. Emansipasi dalam konteks ini berarti menghapus sekat-sekat yang membatasi pilihan, termasuk sekat dalam cara kita memandang pendidikan.

Perempuan-perempuan Indonesia hari ini telah menunjukkan bahwa belajar tidak harus selalu berada dalam ruang kelas yang kaku. Ada yang belajar dari pelatihan singkat, dari komunitas, bahkan dari pengalaman hidup sehari-hari.

Mereka membangun usaha, mengelola keuangan keluarga, hingga beradaptasi dengan teknologi baru. Dalam diam, mereka sedang melanjutkan perjuangan Kartini—bukan dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan nyata.

Meski demikian, tanggung jawab tidak bisa sepenuhnya dibebankan pada individu. Negara memiliki peran strategis untuk memperkuat ekosistem pendidikan nonformal.

Peningkatan kualitas lembaga pelatihan, standarisasi kurikulum, serta pengakuan sertifikasi menjadi langkah penting agar pendidikan nonformal tidak lagi dipandang sebelah mata.

Selain itu, kolaborasi dengan sektor swasta juga perlu diperluas, sehingga lulusan pendidikan nonformal memiliki akses yang lebih besar terhadap peluang kerja.

Masyarakat pun perlu mengubah cara pandangnya. Menghargai pendidikan nonformal berarti mengakui bahwa proses belajar tidak selalu linear dan tidak selalu seragam.

Setiap individu memiliki jalan masing-masing, dan setiap jalan memiliki nilai yang setara selama mampu membawa perubahan positif.

Hari Kartini masa kini seharusnya tidak berhenti pada simbolisme. Ia perlu menjadi momentum refleksi untuk melihat kembali siapa saja yang masih tertinggal dalam akses pendidikan, dan bagaimana kita dapat membuka lebih banyak jalan bagi mereka.

Pendidikan nonformal, dengan segala potensinya, adalah salah satu jawaban yang tidak boleh diabaikan.

Di ruang-ruang sederhana balai desa, rumah belajar, hingga layar gawai, api Kartini terus menyala. Ia mungkin tidak selalu terlihat, tetapi kehadirannya nyata dalam setiap langkah perempuan yang berusaha memperbaiki hidup melalui pendidikan.

Jalan yang ditempuh mungkin sunyi, tetapi justru di sanalah makna emansipasi menemukan bentuknya yang paling jujur dan membumi. ( Penulis merupakan pengelola PKBM Nurul Fata dan  Dosen Tetap STIT Ass’adiyah Cipanas Cianjur)

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *