Dari Jalan Terjal ke Masa Depan Cerah: Kisah Lulusan PKBM Darulnazza Campaka yang Mengubah Nasib Hidup

|

78 Views

 

CIANJUR- Di sebuah ruang belajar sederhana, harapan sering lahir dari tempat yang tak banyak orang bayangkan. Di sanalah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) menjadi rumah kedua bagi mereka yang pernah terhenti langkah pendidikannya.

Kepala PKBM  Darulnazza Campaka , Asep Muhtar Arif memaparkan, bagi sebagian orang, putus sekolah adalah akhir dari mimpi. Namun bagi para warga belajar di PKBM, itu justru menjadi awal perjalanan baru.

Menurut Asep, banyak siswa dan siswi yang datang ke PKBM dengan latar belakang yang tidak mudah. Ada yang terpaksa berhenti sekolah karena faktor ekonomi, ada yang harus membantu orang tua bekerja, bahkan ada pula yang kehilangan kepercayaan diri karena merasa tertinggal dari teman-temannya.

“ Namun PKBM hadir dengan wajah yang berbeda. Ia bukan sekadar tempat mengejar ijazah, melainkan ruang untuk menata kembali harapan,” paparnya

Kata Asep, di kelas-kelas yang sederhana itu, para tutor mengajar dengan pendekatan yang lebih manusiawi. Tidak ada stigma, tidak ada ejekan, yang ada hanyalah semangat untuk bangkit bersama.

Salah satu lulusan PKBM, misalnya, pernah bekerja serabutan setelah berhenti sekolah di bangku SMP. Setiap hari ia membantu orang tuanya mencari nafkah.

Pendidikan terasa seperti mimpi yang terlalu jauh untuk digapai. “ Namun ketika bergabung dengan PKBM, harapan itu kembali menyala,” paparnya

Ia belajar di malam hari setelah bekerja. Mengulang pelajaran yang pernah tertinggal. Pelan-pelan kepercayaan dirinya tumbuh kembali.

Hingga akhirnya ia berhasil menyelesaikan pendidikan kesetaraan dan mendapatkan ijazah. Ijazah itu bukan sekadar selembar kertas. Bagi dirinya, itu adalah simbol kemenangan atas keadaan.

Kini ia telah bekerja di sebuah perusahaan swasta. Bahkan ia menjadi tulang punggung keluarganya. Kisah seperti itu bukan satu dua. Di berbagai PKBM, cerita serupa terus bermunculan. Ada lulusan yang menjadi karyawan pabrik, membuka usaha kecil, bahkan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

PKBM membuktikan bahwa pendidikan tidak selalu harus berjalan lurus seperti jalan tol. Kadang ia berliku, berhenti sejenak, lalu menemukan jalannya kembali. Yang terpenting adalah kesempatan.

PKBM memberikan kesempatan kedua bagi mereka yang sempat kehilangan arah. Tempat di mana seseorang tidak dinilai dari masa lalunya, tetapi dari kemauannya untuk belajar kembali.

Di tengah berbagai kritik dan tantangan, PKBM tetap berdiri sebagai jembatan harapan bagi masyarakat yang tidak terjangkau pendidikan formal.

Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya soal sekolah. Ia adalah tentang membuka pintu masa depan.

Dan di ruang-ruang sederhana PKBM itu, pintu-pintu masa depan terus dibuka—satu per satu, oleh mereka yang berani bangkit kembali. (**)

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *