Simulasi Tes Kemampuan Akademik (TKA): Ikhtiar Mempersiapkan Warga Belajar PKBM Raudhotul Athfal Sukaresmi Cianjur Menggapai Masa Depan

|

16 Views

 

CIANJUR- Di berbagai lembaga pendidikan kesetaraan, kegiatan Simulasi Tes Kemampuan Akademik (TKA) menjadi salah satu langkah penting dalam mempersiapkan warga belajar menghadapi ujian. Salah satunya di PKBM Raudhotul Athfali Jalan Mariwati Km. 06 Kp. Babakan Hilir Rt 003 Rw 005, Desa Cikanyere, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur.

Kegiatan ini bukan sekadar latihan mengerjakan soal, tetapi juga menjadi sarana membangun kepercayaan diri, kedisiplinan, serta kesiapan mental para peserta didik.

Kepala PKBM Raudhotul Athfal Selviana mengatakan, bagi warga belajar di program pendidikan kesetaraan seperti Paket A, Paket B, dan Paket C, simulasi TKA memiliki peran strategis. “ Melalui kegiatan ini, mereka dapat mengenali bentuk soal, memahami pola ujian, serta melatih kemampuan berpikir secara sistematis dan terstruktur,” katanya.

Selvina memaparkan, simulasi TKA biasanya mencakup beberapa mata pelajaran utama, seperti Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Dalam pelaksanaannya, peserta diminta mengerjakan soal dalam batas waktu tertentu, sebagaimana kondisi ujian yang sebenarnya. “Dengan demikian, warga belajar tidak hanya berlatih memahami materi, tetapi juga belajar mengatur waktu dan konsentrasi saat mengerjakan soal,” imbuhnya.

Di lingkungan PKBM, kegiatan simulasi TKA sering kali menjadi momentum penting yang memperlihatkan semangat belajar warga belajar.  Banyak di antara mereka yang datang dari berbagai latar belakang kehidupan: pekerja, ibu rumah tangga, hingga remaja yang pernah terputus sekolah.

“ Namun semangat mereka untuk kembali belajar menjadi energi positif yang menghidupkan ruang-ruang kelas,” paparnya.

Para tutor juga memiliki peran besar dalam keberhasilan simulasi ini. Mereka tidak hanya membimbing secara akademik, tetapi juga memberikan motivasi agar warga belajar tidak merasa minder atau takut menghadapi ujian.

Pendekatan yang humanis dan penuh empati sering kali membuat warga belajar merasa lebih percaya diri. Lebih dari sekadar latihan akademik, simulasi TKA juga menjadi refleksi perjalanan belajar warga belajar selama menempuh pendidikan kesetaraan.

“ Setiap soal yang dijawab menjadi bagian dari proses pembuktian bahwa kesempatan untuk belajar selalu terbuka bagi siapa pun,” tegasnya.

Pada akhirnya, kata dia, kegiatan simulasi TKA bukan hanya tentang nilai atau hasil ujian. Yang lebih penting adalah proses pembelajaran yang membentuk ketekunan, keberanian mencoba, dan keyakinan bahwa pendidikan mampu membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.

“ Bagi warga belajar di PKBM, simulasi ini adalah langkah kecil yang membawa harapan besar: harapan untuk melanjutkan pendidikan, memperoleh pekerjaan yang lebih baik, dan menjalani kehidupan yang lebih bermakna melalui ilmu pengetahuan,” tutupnya.(**)

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *