CIANJUR- Di sebuah ruang kelas sederhana, tawa terdengar lebih sering daripada keluhan. Tidak ada wajah tertekan, tidak ada rasa canggung berlebihan. Di sanalah PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), Isbat Warungkondang Cianjur membuktikan bahwa belajar bisa tetap serius tanpa kehilangan rasa menyenangkan.
Bagi sebagian orang, PKBM mungkin hanya dikenal sebagai tempat pendidikan kesetaraan. Namun, bagi para warga belajar, PKBM adalah ruang kedua untuk menyusun kembali masa depan—dengan cara yang lebih ramah dan manusiawi.
Berbeda dengan sekolah formal yang cenderung kaku dalam jadwal dan aturan, PKBM menawarkan fleksibilitas.
Banyak warga belajar yang datang setelah bekerja, membantu orang tua, atau menyelesaikan tanggung jawab rumah tangga. Kelas sering kali diatur menyesuaikan kondisi peserta didik, tanpa mengurangi kualitas pembelajaran.
“Di sini belajarnya santai, tapi tetap fokus,” ujar pengelola PKBM Isbat, Hendra.
Menurutnya, suasana kelas terasa lebih cair. Diskusi berlangsung dua arah, tutor tidak hanya mengajar, tetapi juga mendengar.
Pendekatan pembelajaran di PKBM memang lebih kontekstual. Materi tidak sekadar berhenti pada teori, melainkan dihubungkan langsung dengan realitas kehidupan.
Dalam pelajaran ekonomi, misalnya, warga belajar diajak memahami cara mengelola usaha kecil. Pada mata pelajaran keterampilan, mereka dilatih membuat produk yang bisa dipasarkan.
Model belajar seperti ini membuat peserta didik merasa apa yang dipelajari benar-benar berguna.
Tidak heran jika semangat hadir di kelas relatif tinggi. Banyak yang datang bukan karena terpaksa, melainkan karena sadar pendidikan adalah kebutuhan.
PKBM juga menjadi ruang inklusif bagi mereka yang sempat terhenti pendidikannya. Tidak ada stigma atau penghakiman.
Yang ada adalah dukungan untuk bangkit kembali. Rasa percaya diri yang sempat memudar perlahan tumbuh seiring proses belajar.
Selain itu, hubungan antarwarga belajar terbangun lebih akrab. Perbedaan usia bukan hambatan.
Dalam satu kelas bisa saja terdapat remaja, pekerja muda, hingga orang tua yang kembali belajar. Keberagaman ini justru memperkaya dinamika pembelajaran.
Di tengah tantangan dunia pendidikan yang semakin kompleks, PKBM menunjukkan bahwa belajar tidak harus selalu berada dalam kerangka formal yang seragam. Pendidikan bisa hadir dengan wajah yang lebih lentur, tanpa kehilangan esensi.
Belajar di PKBM bukan sekadar mengejar ijazah kesetaraan. Ia menjadi pengalaman sosial, ruang berbagi, sekaligus tempat menumbuhkan harapan baru.
Di sana, pendidikan kembali pada makna dasarnya: memanusiakan manusia. Dan mungkin, di ruang-ruang sederhana itulah, semangat belajar menemukan bentuknya yang paling jujur. (**).



Tinggalkan Balasan