PKBM: Merupakan Tempat Bangkit, Bukan Tempat Sisa

|

44 Views

 

Oleh : Darwis Nurjaman S.Pd (Pengelola PKBM  HALIMATUSSA’DIAH  Sukanagara Cianjur)

Siapa bilang Drop Out (DO) itu akhir dari segalanya? Kadang, justru dari titik itulah seseorang menemukan jalannya kembali. Dan di situlah PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) hadir—bukan sebagai “pilihan terakhir”, tapi sebagai ruang kedua untuk bermimpi lagi.

Di tengah sistem pendidikan formal yang kadang terasa kaku dan seragam, PKBM hadir dengan wajah yang lebih ramah. Tidak banyak tanya soal masa lalu. Tidak sibuk menghakimi kenapa seseorang berhenti sekolah. Di PKBM, yang ditanya cuma satu: “Sekarang kamu mau jadi apa?”

Belajar di PKBM itu rasanya beda. Lebih santai, tapi tetap serius. Lebih fleksibel, tapi tetap punya arah. Jadwalnya bisa menyesuaikan dengan kondisi warga belajar ada yang sambil kerja, ada yang bantu orang tua, bahkan ada yang sudah berkeluarga. PKBM paham bahwa hidup tidak selalu berjalan lurus seperti garis di buku tulis.

Bagi siswa yang pernah DO, PKBM bukan sekadar tempat mengejar ijazah. Ia adalah ruang untuk memulihkan rasa percaya diri. Banyak dari mereka yang sempat merasa gagal, minder, bahkan takut bertemu teman sebaya.

 Tapi ketika masuk PKBM, mereka bertemu orang-orang dengan cerita serupa. Di sana tidak ada yang merasa paling tertinggal, karena semua sedang berlari mengejar mimpi masing-masing.

Yang menarik, pembelajaran di PKBM sering kali lebih membumi. Tidak melulu teori. Ada keterampilan, ada diskusi kehidupan nyata, ada pelatihan yang langsung bisa dipakai untuk bekerja atau berwirausaha. Jadi, belajar bukan cuma untuk lulus, tapi untuk hidup.

PKBM juga mengajarkan satu hal penting: kesempatan kedua itu nyata. Dan kesempatan kedua sering kali lebih berharga karena diperjuangkan dengan kesadaran, bukan sekadar kewajiban.

Kita perlu mengubah cara pandang. Siswa DO bukan anak nakal, bukan anak malas, bukan anak tanpa masa depan. Mereka hanya pernah tersandung. Dan setiap orang yang tersandung berhak berdiri lagi.

Di tengah segala keterbatasannya, PKBM menjadi jembatan—menghubungkan yang sempat terputus, menyambung yang hampir menyerah.

 Ia membuktikan bahwa pendidikan tidak harus selalu lewat pintu yang sama. Kadang, pintu samping justru membawa kita ke ruangan yang lebih sesuai.

Belajar di PKBM adalah tentang bangkit. Tentang keberanian untuk memulai ulang. Tentang membuktikan bahwa cerita hidup tidak ditentukan oleh satu kegagalan.

Karena sejatinya, yang hebat itu bukan yang tak pernah jatuh. Tapi yang berani berdiri lagi. Dan PKBM adalah tempat terbaik untuk itu. (**). Penulis juga Ketua Korwil 6 (Campaka, Campakamulya, Sukanagara, Pagelaran dan Pasir Kuda)

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *