CIANJUR – Di tengah berbagai tantangan pendidikan yang masih dihadapi masyarakat, keberadaan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) terus menunjukkan peran strategisnya.
Melalui program pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C, ribuan warga belajar setiap tahun berhasil menyelesaikan pendidikan yang sempat terhenti dan memperoleh ijazah yang diakui negara.
Program Paket A merupakan pendidikan kesetaraan setara Sekolah Dasar (SD), Paket B setara Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Paket C setara Sekolah Menengah Atas (SMA).
Ketiga program tersebut menjadi solusi bagi masyarakat yang tidak dapat menempuh pendidikan formal karena faktor ekonomi, pekerjaan, usia, maupun kondisi sosial lainnya.
Bagi banyak warga belajar, kelulusan dari PKBM bukan sekadar memperoleh ijazah. Lebih dari itu, kelulusan menjadi titik balik untuk membuka peluang kerja yang lebih baik, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, hingga meningkatkan taraf hidup keluarga.
Di sejumlah daerah, lulusan Paket C bahkan berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri maupun swasta. Hal ini karena ijazah pendidikan kesetaraan memiliki hak eligibilitas yang sama dengan ijazah pendidikan formal sesuai jenjangnya.
Ketua Forum PKBM Kabupaten Cianjur, Deni Abdul Kholik menyebutkan, pendidikan kesetaraan hadir sebagai bentuk nyata komitmen negara dalam memastikan tidak ada warga yang kehilangan hak memperoleh pendidikan.
“Banyak peserta didik kami yang sebelumnya putus sekolah karena harus bekerja membantu orang tua. Ada juga ibu rumah tangga, pekerja pabrik, hingga pekerja migran yang akhirnya berhasil menuntaskan pendidikan melalui PKBM,” ujarnya.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tidak mengenal batas usia. Melalui sistem pembelajaran yang lebih fleksibel, warga belajar dapat menyesuaikan waktu belajar dengan aktivitas sehari-hari.
Model pembelajaran ini menjadi salah satu alasan meningkatnya minat masyarakat mengikuti program kesetaraan.
Di Kabupaten Cianjur, keberadaan PKBM juga menjadi salah satu instrumen penting dalam menekan angka putus sekolah dan meningkatkan rata-rata lama sekolah masyarakat.
Setiap lulusan Paket A, B, maupun C berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia sekaligus mendukung pembangunan daerah.
Pendidikan kesetaraan kini tidak lagi dipandang sebagai pilihan kedua. Sebaliknya, program ini telah menjadi jalur alternatif yang memberi kesempatan bagi masyarakat untuk kembali menata masa depan.
“ Dengan semangat belajar sepanjang hayat, para lulusan PKBM membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan dan kehidupan yang lebih baik,” paparnya. (**)



Tinggalkan Balasan