Cianjur — Harapan itu tumbuh di ruang-ruang sederhana PKBM Nurul Fata, Maleber, Karangtengah, Kabupaten Cianjur. Di tempat inilah, warga belajar Paket B menapaki kembali jalan pendidikan yang sempat terhenti, dengan mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) penuh antusias dan keyakinan akan masa depan yang lebih baik.
Sejak pagi, satu per satu peserta datang dengan langkah pasti. Ada yang sebelumnya bekerja serabutan, ada pula yang harus mengesampingkan sekolah karena keterbatasan ekonomi. Kini, mereka duduk di bangku yang sama, dipersatukan oleh tujuan: meraih kesetaraan pendidikan dan membuka peluang hidup yang lebih luas.
Di dalam ruang ujian, suasana hening namun sarat makna. Lembar demi lembar soal dikerjakan dengan penuh kesungguhan. Bagi mereka, ini bukan sekadar ujian akademik, melainkan pembuktian bahwa kesempatan kedua dalam pendidikan adalah sesuatu yang nyata.
“Saya ingin sukses ke depannya, ingin punya pekerjaan yang lebih baik,” ujar salah satu peserta TKA, Fajar Sidik Ismail, lirih namun penuh tekad. Baginya, pendidikan nonformal bukanlah penghalang, melainkan jembatan untuk mengejar cita-cita yang sempat tertunda.
Kepala Sekolah PKBM Nurul Fata, Deni Abdul Kholik menuturkan, semangat warga belajar tahun ini terasa semakin kuat. Banyak di antara mereka yang datang dengan motivasi tinggi, meski harus membagi waktu antara belajar, bekerja, dan tanggung jawab keluarga.
“Justru di sinilah nilai perjuangannya. Mereka sadar pendidikan itu penting, meskipun jalurnya nonformal,” kata salah satu tutor.
PKBM sebagai lembaga pendidikan nonformal menjadi ruang inklusif bagi siapa saja yang ingin kembali belajar. Di tengah stigma yang masih melekat, warga belajar di Nurul Fata menunjukkan bahwa kesungguhan dan kerja keras tidak ditentukan oleh jalur pendidikan, melainkan oleh kemauan untuk terus maju.
Pelaksanaan TKA ini pun menjadi titik penting dalam perjalanan mereka. Lebih dari sekadar evaluasi, ujian ini menjadi simbol harapan—bahwa setiap usaha yang dilakukan hari ini akan berbuah di masa depan.
Di balik kesederhanaan ruang belajar itu, tersimpan mimpi-mimpi besar. Para warga belajar Paket B di PKBM Nurul Fata percaya, meski menempuh jalur nonformal, mereka tetap memiliki kesempatan yang sama untuk sukses di kemudian hari. Pendidikan, bagi mereka, adalah pintu yang tak pernah benar-benar tertutup—selama masih ada kemauan untuk membukanya kembali. (**)



Tinggalkan Balasan