CIANJUR- Warga belajar dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Raudhotul Athfal di Jalan Mariwati Km. 06 Kp. Babakan Hilir Rt 003/Rw 005, Desa Cikanyere, Kec. Sukaresmi, Kab. Cianjur melakukan kunjungan edukatif ke Istana Kepresidenan Cipanas, sebuah bangunan bersejarah yang menjadi salah satu istana resmi Presiden Republik Indonesia.
Kepala PKBM Raudhotul Athfal Selviana, menerangkan, kunjungan ini menjadi pengalaman berharga bagi para peserta didik pendidikan kesetaraan. “ Selain sebagai kegiatan rekreasi edukatif, kegiatan tersebut juga bertujuan menumbuhkan rasa cinta tanah air serta memperluas wawasan kebangsaan para warga belajar,” katanya.
Istana yang terletak di kaki Gunung Gede ini memiliki nilai sejarah yang panjang. Dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda sekitar tahun 1740, kompleks istana ini kerap digunakan sebagai tempat peristirahatan resmi para presiden Indonesia.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta didik mendapatkan penjelasan mengenai sejarah bangunan, fungsi istana negara, serta berbagai koleksi yang terdapat di dalamnya. Para tutor PKBM juga memanfaatkan momentum ini sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual di luar kelas.
“Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran langsung bagi warga belajar. Mereka tidak hanya membaca sejarah dari buku, tetapi juga melihat langsung tempat yang memiliki nilai sejarah bagi bangsa,” ujarnya.
Para warga belajar terlihat antusias mengikuti setiap penjelasan yang diberikan. Beberapa di antaranya bahkan mengaku baru pertama kali melihat langsung salah satu istana negara.
Selain mengenal sejarah, kunjungan ini juga menjadi momen untuk menanamkan nilai kebangsaan, kedisiplinan, dan rasa bangga terhadap identitas nasional.
Melalui kegiatan seperti ini, PKBM berharap pendidikan kesetaraan tidak hanya memberikan ijazah, tetapi juga membentuk karakter, wawasan, serta kecintaan terhadap bangsa dan negara.
“ Kegiatan kunjungan edukatif ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan nonformal lainnya untuk terus menghadirkan pembelajaran yang kreatif, kontekstual, dan bermakna bagi para peserta didik,” tutupnya. (**)



Tinggalkan Balasan