Belajar di PKBM Raudhotul Athfal Sukaresmi: Ketika Ruang Sederhana Menjadi Tempat Menyalakan Harapan

|

23 Views

 

CIANJUR-Pagi itu ruang belajar di  Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Raudhotul Athfal, di Kampung Babakan Hilir Rt 03 Rw 05 desa cikanyere kecamatan Sukaresmi tampak sederhana. Meja-meja kayu tersusun rapi, papan tulis berdiri di depan ruangan, sementara beberapa warga belajar duduk berkelompok sambil berdiskusi.

 Di sela-sela pembelajaran, sesekali terdengar tawa yang pecah—sesuatu yang jarang ditemui di ruang kelas yang penuh tekanan. Bagi mereka yang duduk di ruangan itu, PKBM bukan sekadar tempat belajar. Ia adalah ruang untuk memulai kembali mimpi yang sempat terhenti.

Menurut Kepala Sekolah PKBM, Raudhotul Athfal, Selviana sebagian warga belajar datang setelah seharian bekerja. Ada yang bekerja di bengkel, di sawah, ada pula yang membantu orang tua berdagang.

Wajah-wajah mereka menyimpan cerita yang tidak sederhana: tentang sekolah yang terpaksa ditinggalkan, tentang ekonomi keluarga, dan tentang masa depan yang sempat terasa jauh.

Namun di PKBM, cerita itu perlahan berubah.

Tutor tidak hanya mengajar dari buku. Mereka mengajak warga belajar berdiskusi, berbagi pengalaman hidup, bahkan tertawa bersama. Materi pelajaran sering dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga terasa lebih dekat dan mudah dipahami.

“Di sini tidak ada yang menertawakan kalau kita salah. Justru kami didorong untuk mencoba lagi,” katanya.

Suasana belajar yang hangat membuat banyak warga belajar merasa kembali percaya diri. Rasa minder karena pernah putus sekolah perlahan memudar. Di ruang sederhana itu, mereka belajar bahwa kegagalan masa lalu bukan akhir dari perjalanan.

Tidak sedikit dari mereka yang datang dengan tujuan sederhana.  Mendapatkan ijazah pendidikan kesetaraan. Namun dalam perjalanan belajar, mereka menemukan sesuatu yang lebih besar—keyakinan bahwa masa depan masih bisa diperjuangkan.

Beberapa lulusan PKBM bahkan berhasil mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, membuka usaha kecil, atau melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Kisah-kisah seperti itu menjadi sumber motivasi bagi warga belajar lainnya.

Katanya, bagi para tutor dan pengelola, melihat perubahan itu adalah kebahagiaan tersendiri. Mereka percaya bahwa pendidikan bukan hanya soal nilai atau ujian, tetapi tentang mengembalikan harapan kepada mereka yang sempat kehilangan kesempatan.

Di tengah keterbatasan fasilitas, tambahnya, PKBM terus berdiri sebagai ruang yang ramah bagi siapa saja yang ingin belajar kembali.

“Ruang-ruang sederhana itu mungkin tidak megah, tetapi di dalamnya tumbuh sesuatu yang jauh lebih berharga, keberanian untuk bermimpi lagi. Dan setiap kali pintu kelas PKBM terbuka, selalu ada satu pesan yang diam-diam hidup di dalamnya,” tutupnya.(**)

Artikel Menarik Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *